Skip to content

Bersiap Di Jalan Dakwah

  • Ilham 

Panggilan yang Mengusik Hati

Langit sore berwarna jingga keemasan saat Rifqi duduk di tepi jendela kamarnya. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah yang baru saja disiram hujan. Hari itu adalah hari yang berbeda bagi Rifqi. Bukan karena langitnya lebih indah atau cuacanya lebih sejuk, tetapi karena hatinya terasa lebih berat dari biasanya.

Ia baru saja kembali dari sebuah kajian di masjid dekat rumahnya. Kajian yang bukan sekadar menambah wawasan, tetapi juga menggugah kesadarannya tentang sebuah tugas besar: dakwah.

Sore itu, Ustaz Malik berbicara dengan penuh ketegasan, tetapi juga kelembutan.

“Saudara-saudaraku, kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kita memikul tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran, mengajak manusia kembali kepada jalan Allah. Jika kita tidak melakukannya, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi?”

Kata-kata itu menusuk hati Rifqi. Selama ini, ia merasa cukup dengan hanya memperbaiki diri sendiri, beribadah dengan tekun, dan menjauhi maksiat. Namun, ada sesuatu yang terasa kurang. Ia belum benar-benar menjalankan tugasnya sebagai seorang Muslim dalam mengajak orang lain kepada kebaikan.

Dalam perjalanan pulang, pikirannya terus berputar. Dakwah bukanlah tugas yang ringan. Ia bukan hanya tentang menyampaikan kata-kata indah atau berbagi ilmu di media sosial. Dakwah adalah perjalanan yang penuh tantangan, rintangan, bahkan mungkin pengorbanan.

Ujian di Jalan Kebenaran

Malam itu, Rifqi berbicara dengan ayahnya, seorang pria bijak yang telah mengarungi banyak gelombang kehidupan.

“Ayah, aku ingin berdakwah. Tapi, aku takut. Takut diremehkan, takut dicemooh, takut ditolak,” katanya dengan nada ragu.

Ayahnya tersenyum.

“Rifqi, jika semua orang takut, siapa yang akan menyampaikan kebenaran? Dulu, Rasulullah juga menghadapi tantangan yang lebih besar. Beliau dihina, dilempari batu, bahkan diusir dari kampung halamannya. Tapi apakah beliau menyerah? Tidak. Karena beliau tahu, dakwah bukan tentang mencari pujian manusia, melainkan tentang menjalankan perintah Allah.”

Rifqi menghela napas. Ia tahu ayahnya benar. Tapi tetap saja, ada ketakutan yang menggelayuti hatinya.

Langkah Pertama di Jalan Panjang

Beberapa hari kemudian, Rifqi mencoba mengambil langkah pertama. Ia mulai berbicara dengan teman-temannya, mengajak mereka untuk lebih rajin ke masjid, mengingatkan untuk tidak meninggalkan shalat. Respon yang ia terima beragam. Ada yang menyambut baik, ada yang menertawakan, dan ada yang bahkan menjauhinya.

“Rifqi, kita masih muda. Santai saja. Hidup ini bukan cuma buat ibadah,” kata salah satu temannya.

Rifqi tersenyum, meski hatinya sedikit perih. Tapi ia sadar, inilah ujian pertama di jalan dakwah. Tidak semua orang akan langsung menerima kebenaran. Tugasnya hanya menyampaikan, bukan memaksa.

Cahaya di Tengah Kegelapan

Hari-hari berlalu, dan Rifqi semakin teguh dalam jalannya. Ia mulai memperdalam ilmu, bergabung dengan komunitas dakwah, dan mencari bimbingan dari para ustaz. Ia menyadari bahwa dakwah bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga tentang menjadi contoh yang baik. Bukan hanya menyuruh orang lain berbuat baik, tetapi juga membuktikan dalam sikap dan tindakan.

Suatu hari, seorang teman lama yang dulu menertawakannya tiba-tiba menghubungi.

“Rifqi, aku butuh bicara. Aku merasa kosong. Sepertinya aku butuh bimbingan,” katanya dengan suara lirih.

Hati Rifqi menghangat. Ini adalah bukti bahwa setiap usaha yang dilakukan di jalan Allah tidak akan pernah sia-sia. Mungkin butuh waktu, mungkin butuh kesabaran, tapi pada akhirnya, kebenaran akan menemukan jalannya.

Bersiap untuk Perjalanan yang Lebih Besar

Malam itu, Rifqi duduk di atas sajadahnya. Ia menengadahkan tangan, memohon kekuatan kepada Allah. Ia tahu, jalan dakwah ini masih panjang. Akan ada lebih banyak ujian, lebih banyak rintangan, dan lebih banyak pengorbanan. Tapi kini, ia telah siap.

Karena ia tahu, dakwah bukan hanya tugas para ulama atau ustaz. Dakwah adalah tugas setiap Muslim. Dan ia, dengan segala kekurangan dan ketakutannya, telah memilih untuk melangkah di jalan itu.

Langit malam tampak lebih indah dari biasanya. Bintang-bintang bersinar terang, seakan memberi restu pada langkah kecil yang kini telah ia mulai. Perjalanan panjang telah dimulai, dan Rifqi bersiap untuk menghadapi apa pun yang akan datang di jalan dakwah ini.

Ilham

Ilham

Ane seorang blogger, internet marketer, bikin web juga yang sederhana, bisnis pernah, jadi karyawan juga pernah, sukses pernah bangkrut sering, gado-gado pokoknya. Jangan ikutin ya yang buruknya so the future must go on..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *